Selasa, 19 Juli 2016

BIOGRAFI LETJEN TNI (PURN) G.H. MANTIK, PROFIL SEORANG PEJUANG PRAJURIT.

BUKU SEJARAH SILIWANGI DAN BIOGRAFI TOKOH SILIWANGI,  TOKOH LASKAR KEBAKTIAN RAKYAT INDONESIA SULAWESI (KRIS) DAN MANTAN PANGDAM /JAYA, LETJEN TNI (PURN) GUSTAAF HENDRIK MANTIK., " G.H. MANTIK - PROFIL SEORANG PEJUANG PRAJURIT ", KARYA ROELOF A.J. GOSAL, CHARLES R. TUMEMBOW DAN HERMAN KARAMOY.

(T E R J U A L)



Buku ini memaparkan kisah hidup, perjuangan dan pengabdian Letjen TNI (Purn) G.H. Mantik,
seorang pemuda Kawanua terpelajar yang kental dengan latar belakang pendidikan Belanda, namun ia justru tampil gigih di berbagai medan tempur melawan penjajah Belanda. Mantik yang Manado lebih populer di Bumi Siliwangi, karena Jawa Barat adalah tempat dimana ia dilahirkan, serta basis perjuangannya, sehingga ia akrab dengan yang bernuansa Sunda.

Pada awal kemerdekaan G.H. Mantik ikut aktif dalam perjuangan dan bergabung dengan Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) wilayah Bandung dan bersama dengan berbagai Laskar, Kesatuan lain dan BKR, saat itu mereka bahu membahu mengadakan berbagai serangan/serbuan dan perlawanan terhadap Belanda.
Pada periode berikutnya pemerintah membentuk BKR - TKR - TRI di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat, Saat itu berbagai Laskar dan Kesatuan Perjuangan di Jawa Barat disatukan dalam komando Panglima Divisi III Komandemen I TKR Jawa Barat. Dalam babakan perjuangan di Jawa Barat, G.H. Mantik turut mengalami peristiwa Bandung Lautan Api, 
Setelah terjadi reorganisasi Divisi Siliwangi disusun Mantik, ditunjuk sebagai Komandan Peleton dalam kesatuan Batalyon Siluman pimpinan Dan Yon III Ahmad Wiranatakusumah.

Sehubungan dengan pelaksanaan isi Perjanjian Renville,  Divisi Siliwangi harus melaksanakan Hijrah ke Jawa Tengah, Mantik menjabat Komandan Seksi Det I Stoottroep Garuda Res X saat itu beliau ber-Hijrah melalui laut dengan menumpang Kapal LST. Pelikan dan mendarat di Rembang, Jawa Tengah untuk selanjutnya bergerak ke Solo dan Yogyakarta. 
Saat peristiwa pemberontakan PKI Madiun 1948, pimpinan Muso meletus, Mantikpun ikut serta dalam operasi militer penumpasan golongan Komunis ini. Belum lagi hilang rasa lelah seusai operasi militer dan kondisi pasukan masih lemah lemah, Belanda melancarkan Agresi Militernya yang kedua pada tanggal 19 Desember 1948, saat Agresi dilancarkan Divisi Siliwangi sedang melaksanakan konsilidasi untuk mempersiapkan Long March kembali ke Jawa Barat.

Saat pelaksanaan Long March, G.H. Mantik bersama Brigade 12 mendapat tugas untuk menuju Bandung Selatan  dengan berjalan kaki, selama Long March seluruh Divisi Siliwangi bukan saja harus menghadapi serdadu-serdadu kolonial Belanda, tapi juga mantan teman seperjuangan yang telah menjadi lawan, yaitu gerombolan DI/TII Kartosuwiryo, namun  daya juang dan ketangguhan Divisi Siliwangi mampu mengatasi semua itu, hingga akhirnya Long March yang sangat legendaris itu berhasil terlaksana.

Setelah berlakunya Penghentian Tembak Menembak (Cease-Fire Order) sebagai hasil Persetujuan Roem - Rooyen, maka Siliwangi melaksanakan konsolidasi sbb :

** Jawa Barat dipimpin oleh Gubernur Militer Kolonel Sadikin
** Federale District Jakarta dipimpin oleh Gubernur Militer Letkol Daan Jahja, dengan kekuatan :
- Yon 307/ Kalahitam.
- Yon kilat.
- Yon 317 / Banteng Taruna.
- Yon 322 / Siluman Merah.
Dan Kompi G.H. Mantik ditempatkan pada Pasukan Batalyon 322 Siluman Merah yang dipimpin oleh Kapten H.R. Dharsono (Kelak menjadi Pangdam VI Siliwangi dan Sekjen ASEAN dan Tokoh Petisi '50).

Selanjutnya dalam rangka penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS), G.H. Mantik bertugas di bawah Batalyon 324/Siliwangi pimpinan Mayor Achmad Wiranatakusumah. selesai penumpasan RMS, G.H. Mantik dipercaya untuk menjadi Komandan Batalyon 324 / 3 Mei.

Setelah itu G.H. Mantik banyak bertugas dalam jajaran KODAM V/Jaya, hingga mencapai jabatan Pangdam V/Jaya, setelah sebelumnya menjabat Pangdam IX/Mulawarman.
Saat menjabat Pangdam V/Jaya inilah terjadi peristiwa Mala Petaka 15 Januari 1974 (MALARI).
Selanjutnya beliau dipercaya untuk menjabat sebagai Panglima Komando Wilayah Pertahanan / Pangkowilhan I/ Sumatera dan Kalimantan Barat, setelah itu beliau menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Utara, Wakil Ketua MPR-RI dan Wakil Ketua DPA. 

Catatan :
Letjen TNI (Purn) G.H. Mantik adalah Ayah Mertua dari Mantan Ka Bakin Letjen TNI Arie J. Kumaat dan Ayah Angkat dari Mantan Wakasad Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri.

S P E S I F I K A S I  :
- Buku bekas.
- Soft cover.
- Masih bagus.
- Halaman lengkap.
- Dilengkapi dengan foto.
- Penerbit PT. Terang Esa Agung.
- CETAKAN PERTAMA, 1998.
- 128 halaman.
- Ukuran 15 x 21 cm.

 HARGA Rp 375.000, - (FIX) , BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM. 

UNTUK INFO LEBIH LANJUT SILAHKAN MENGHUBUNGI TREEHOUSE KULAMA 081586008604 (SMS / WA / LINE). 

UNTUK MELIHAT KOLEKSI LENGKAP KAMI, SILAHKAN MENG "KLIK" SITUS BERIKUT: 

www.bukusejarah.com 
www.bukukoleksi.com 
www.bukujadul.com 
bukusejarahdanbiografi.blogspot.co.id 
bukumajalahjadul.blogspot.co.id 
bukug30spki1965.blogspot.co.id 
bukusejarahg30s.blogspot.co.id 
bukubudayajawa.blogspot.co.id 
bukubonsai.blogspot.co.id  
bukusastrapopuler.blogspot.co.id 
bukusiliwangi.blogspot.co.id 
integrasitimortimur.blogspot.co.id 
jualbukupenting.blogspot.co.id 
sepatukudabekas.blogspot.co.id
pasukankomando.blogspot.co.id

MAAF, KAMI TIDAK MELAYANI TRANSAKSI SECARA COD.